Salah satu petugas PLN Lhok Kruet, Kecamatan Sampoiniet, Aceh Jaya

Tribratanewsacehjaya.com – Puluhan warga dari Kemukiman Pantee Purba dan Kulam Mutia, Kecamatan Sampoiniet, Minggu (10/1) sekitar pukul 22.00 WIB mengepung Kantor PLN Rayon Calang di Lhok Kruet serta mengobrak-abrik kantor tersebut. Aksi itu dipicu pemadaman listrik yang tak terjadwal dalam sepekan terakhir. Terkadang, listrik padam seusai magrib, bahkan juga siang hari selama berjam-jam.

Warga datang menggunakan mobil pribadi dan sepeda motor. Setiba di lokasi sempat terjadi perdebatan dengan petugas PLNyang berada di kantor malam itu. Dalam perdebatan yang berlangsung tegang itu sebagian warga mematikan lampu. Sehingga dalam suasana gelap, warga mengobrak-abrik kantor tersebut dengan memecahkan kaca jendela menggunakan batu, sehingga berhamburan ke lantai.

“Massa baru berhasil kita bubarkan pada Senin (11/1), sekitar pukul 01.00 WIB dini hari,” kata Kapolres Aceh Jaya melalui Kapolsek Sampoiniet Iptu Abdul Hamid saat di konfirmasi Serambi, Senin (11/1) di lokasi. Ia menyebutkan dalam suasana memanas anggota Polsek dan Koramil Lhok Kruet bergerak cepat mengamankan situasi yang sempat mengejutkan warga lainya malam itu. Menurutnya, aksi tersebut terjadi akibat pemadaman listrik yang terus terjadi setiap magrib hingga berjam-jam, sehingga warga kesal dan memicu massa datang ke kantor tersebut dan bertindak anarkis.

Sementara itu anggota DPRK Aceh Jaya Saudi menyebutkan pemadaman terjadi khusus di kawasan pedalaman yaitu Kemukiman Pantee Purba, Kecamatan Sampoiniet, Darul Hikmah dan Kecamatan Setia Bakti terjadi setiap magrib hingga berjam-jam.


Manajer 
PLN Area Meulaboh Saslizar kepada Serambi mengakui adanya pengrusakan Kantor PLN Rayon Calang di Lhok Kruet. Ia menganggap hal itu sebuah kewajaran sebagai lampiasan kekecewaan warga. Menurut Saslizar pemadaman listrik belakangan ini yang terjadi di kawasan pelosok tentu ada pemberitahuan. “Kebutuhan listrik itu disupali dari PLTU Nagan Raya untuk tiga wilayah yaitu Nagan Raya, Aceh Barat dan Aceh Jaya,” ujarnya.“Pemadaman listrik yang sangat diskriminasi itu membuat warga mengeluh dengan kebijakan PLN. Sebab banyak pengajian anak-anak di TPA terhenti. Itu terjadi berturut-turut di kawasan pelosok di tiga kecamatan,” ungkap Saudi yang juga warga Kuala Ligan, Kemukiman Pante Purba, Kecamatan Sampoiniet. Menurutnya jika pihak PLN hendak memadamkan listrik, harusnya ada pemberitahuan dan membuat pemadaman secara bergiliran, tidak di satu tempat tertentu saja.

Menurutnya pemadaman listrik di kawasan pedalaman karena ada gangguan pohon sawit yang menyentuh kabel listrik di kawasan Sampoiniet ditambah jadwal giliran pemadaman. Pihaknya kini sedang berupaya agar tidak ada lagi pemadaman. “Kita meminta kepada pengusaha atau warga yang memiliki kelapa sawit yang berdekatan dengan kabel listrik supaya dapat di tebas, agar tidak terganggu dan terjadi pemadaman,” harap Saslizar.

Ia menambahkan pihaknya memaklumi jika ada warga kecewa dengan pemadaman listrik. Namun, kata dia, hal tersebut bukanlah sebuah diskriminasi yang dilakukan PLN. Akan tetapi saat ini memang sedang terjadi pemeliharaan di PLTU Media Group sejak awal 2016, sehingga pemadaman arus listrik masih terjadi karena mengalami defisit.

Comments

comments